CAD Monkey !

career_17_image_hero

DESIGNER DI PERSIMPANGAN EGO

Bukanlah hal yang baru jika seorang interior designer memiliki ego yang untuk sebagian besar justru menjadi sebuah modal memunculkan namanya dalam dunia profesi. Beberapa bahkan lebih terkenal berkat memelihara ego sehingga justru client lah yang mengikuti style dari sang designer.  Ego yang dipelihara dan dimunculkan dalam sebuah karya design yang simultan dan terus menerus ketika berkarya , justru mampu menjadi sebuah trade mark, menjadi sebuah identity design. Jika dalam dunia seni lukis, ketika kita melihat sebuah karya yang menunjukan sebuah lukisan misalnya sosok tubuh dengan mata yang hitam maka tanpa kita lihat namanya pasti semua sudah tahu ” jehan” pelukisnya , atau popo iskandar yang memang memiliki kontinyuitas berkarya. Memang sedikit berbeda jika dibandingkan dengan dunia Interior design. Seorang Interior designer tidak bisa 100% mengutamakan ego pribadi dalam menuangkan karya. Batasan bahwa Design adalah ilmu terapan , jelas sekali mendudukan sebuah profesi yang mau tidak mau harus disadari bahwa ada beberapa hal atau aspek yang harus di ikuti seorang interior designer. Misalnya : Aspek Fungsional, Aspek Ergonomic , Aspek Teknis yang memang merupakan sebuah guidance dalam membuat design. Interior sebuah Masjid akan memiliki batasan fungsi yang berbeda dengan Mal atau bangunan lainnya, tentu saja. Ada satu aspek yang bisa mengakomodir tingkat ego seorang designer yaitu aspek Estetis. Di sinilah nilai tambah seorang Interior Designer terlihat apakah memiliki passion atau tidak.

Dalam kenyataannya, ego designer akan berbenturan dengan sang pemilik proyek. Disadari atau tidak, masing masing memiliki sense of art yang berbeda pula. Sebagian orang berpendapat dan mengambil keputusan untuk menekan sedalam dalamnya egoisme pribadi seorang designer demi sebuah kenyamanan dalam mengerjakan proyeknya. Terkadang keputusan seperti itupun bukan tanpa masalah, beberapa pengalaman justru menjadi bumerang bagi seorang designer, ketika sebuah keputusan menyangkut aspek eatetika diserahkan kepada kehendak owner. Ungkapan pedas akan terlontar :” Lhaa ngapain gua bayar konsultan interior kalau semua sesuai kehendak gw. Fungsi lo apa? Just a cad monkey ? ”

Pengalaman adalah guru yang bijaksana. Itu kata pepatah yang memang merupakan sesuatu hal yang benar adanya. Tanpa sebuah pengalaman , ungkapan seperti di atas bisa saja terulang dan terulang. Daya tawar sebuah konsep yang merupakan aspek eatetis tadi mestinya bisa diterjemahkan menjadi sebuah design dengan tetap memperhatikan tingkat sense of art owner.  Masih mau jadi cad monkey ??

 

Jakarta 1 Agustus 2018

Nanang Rusmana

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s