Menjadi Interior Designer Yang Sempurna

presentasi-660x330

A good designer knows not only how to solve problems with good design, but also knows how to communicate design decisions and the value it can bring to the company.

Designer bukan hanya membuat 3D

Beberapa bulan lalu saya sempat diskusi dengan seorang anak muda, lulusan dari Teknik Arsitektur sebuah perguruan tinggi terkemuka di negeri ini. Tidak sengaja bertemu dalam sebuah perjalanan dari Jakarta menuju Cirebon.  Sebagai sesama yang berprofesi di dunia properti, kami dengan mudah akrab. Dalam perbincangan singkat selama hampir dua jam , dia mengeluhkan suasana pekerjaannya yang selalu ada semacam hirarki. Senioritas memang selalu ada dalam bidang apapun, tak terkecuali dunia konsultan. Satu hal yang tidak disadari oleh anak muda ini adalah bahwa dunia profesi yang dilihat bukan lulusan asal dari mana, atau sebagus apa hasil Gambar 3D yang bisa dikerjakan.  Beberapa kasus yang saya temukan, interpretasi masyarakat umum menilai bahwa seorang Interior Designer yang bagus adalah mereka hadir dengan kualitas 3D yang sempurna semirip mungkin dengan kenyataannya. Saya tidak menyalahkan interpretasi seperti itu, ada banyak sebab sehingga hal tersebut menjadi sebuah stigma, salah satunya adalah ketidaktahuan atau minimnya informasi yang benar tentang profesi Interior Designer. Bahwa Seorang Interior Designer harus pandai menggambar baik manual ataupun menggunakan media software.

3D , hanyalah sofware untuk membantu seorang designer dalam memvisualkan ide dan gagasannya. Sebagai sebuah alat/media, maka semestinya hal ini bukanlah sebuah keutamaan untuk seorang Interior Designer terlebih lagi Senior Interior Designer atau seorang Principle Design.  Seberapa sempurnanya hasil rendering sebuah design, tidak akan bermakna apapun jika tidak sampai menjawab kebutuhan user, dengan kata lain , Design tidaklah berguna jika aspek fungsional tidak tercapai. Design adalah sebuah solusi.

Design adalah Proses.

Kembali kepada anak muda tadi, satu hal yang belum disadari adalah bahwa tingkat senioritas bukan juga terletak pada Gelar pendidikan yang tinggi. Jika kita lihat saat ini banyak yang dengan mudah meneruskan pendidikan S2 langsung setelah S1, jaman memang menuntut strata pendidikan saat ini lebih baik S2. Tetapi satu hal yang tidak bisa dibeli oleh gelar adalah ilmu yang didapatkan dari pengalaman terlebih jika menyangkut sistem pada proyek proyek dengan tingkat kompleksitas masalah yang tinggi. Dari sanalah akan terjawab kenapa senioritas dalam profesi begitu kental. Kita bisa begitu mudah mengetahui kapabilitas seseorang dari pengalamannya menangani proyek. Bagi seorang yang sangat pengalaman, seberapa pun besarnya, seberapa rumit kompleksitas dari sebuah proyek, tetap saja bisa menanganinya dengan baik. Sikap tenang dan mudah mencari jalan keluar atas setiap masalah ketika menangani design skala besar, merupakan sebuah asset yang didapatkan tidak dengan mudah melainkan perlu waktu belasan bahkan puluhan tahun. Pengetahuan proses design dan produksi serta proses managemen dalam sebuah proyek tidak akan bisa dipahami hanya dalam waktu singkat apalagi di bangku pendidikan formal.

Design harus dikomunikasikan.

Banyak diantara teman saya yang memiliki kapasitas tinggi dalam menuangkan ide dan gagasan namun memiliki satu kelemahan; public speaking.

Ketika kemampuan membuat materi presentasi design  baik digital maupun konvensional , telah menjadi acuan tingkat kesenioritasan seseorang dalam dunia design, maka sebenarnya ada satu hal lagi yang tidak boleh dilupakan yakni ; ” PUBLIC SPEAKING “.

Sebaik apapun hasil karya seorang designer, tidak akan bisa tercapai tujuannya jika gagal dikomunikasilan kepada end usernya. Pada beberapa kasus yang saya temui, ketika proses tender design and built, beberapa hasil design kompetitor yang menjadi pesaing sebenarnya memiliki hasil yang bahkan lebih baik namun lemah dalam mengkomunikasikan karyanya. Gagal dalam mengkomunikasika sebuah ide dan gagasan maka 75% akan gagal dalam sebuah kompetisi design. Sebuah design akan sangat diterima dengan baik jika seorang interior designer berhasil dalam mempengaruhi end user. Untuk bisa mempengaruhi end user, dibutuhkan kepiawaian dalam berkomunikasi baik secara verbal maupun non verbal. Penguasaan teknik komunikasi dua arah, penguasaan teknik psikologi komunikasi merupakan sebuah ilmu yang sebagian besar bisa didapatkan dengan baik lewat pengalaman. Jadi, jika mau menjadi Interior Designer yang mumpuni maka belajarlah mengetahui proses design..proses produksi…proses management….dan proses komunikasi.

 

Jakarta 03 Agustus 2018

 

Salam keep spirit.

Nanangrusmana

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s